Agar Tak Sempat Maksiat
Maraknya
maksiat di generasi muda negeri ini nyaris menyentuh titik biasa dan lazim.
Mereka telah matang biologisnya tetapi tunas iman belum lagi tumbuh. Berbagai
pembentengan yang dilakukan oleh orangtua, sekolah dan negara tak lagi mampu
melindungi mereka. Gelombang besar syahwat telah meruntuhkan benteng-benteng
itu. Karena seberapalah kuatnya benteng tanpa iman.
Berbagai
benteng yang sifatnya pengawasan fisik terus digulirkan. Tetapi pasti semua itu
bersifat sementara. Karena manusia yang menciptakan sistem itu. Sehingga semua
bisa diakali.
Setiap
bicara tentang pembatasan generasi dari maksiat zina, benteng paling efektifnya
adalah iman. Iman yang akan menghasilkan rasa selalu merasa diawasi oleh Allah
membuat mereka tidak berani menyentuh garisnya walau tidak ada yang melihatnya.
Memang
solusi inilah yang seharusnya terus ditanamkan sebelum masa mereka matang
secara biologis tiba. Sehingga benar jika dikatakan bahwa obat itu ada dalam
diri mereka sendiri. Ya, iman yang ada dalam dada mereka itulah yang menjadi
benteng.
Tapi
masalahnya banyak yang tidak memahami bagaimana iman ditanamkan. Imam Ghazali
dalam Ihya’ Ulumiddin mengkritik keras pengajaran iman versi
filsafat. Berputar-putar, rumit, membingungkan, sebatas di otak dan ujungnya
bisa tidak bertemu Tuhan. Sementara itulah yang bisa dirasakan dari kurikulum
penanaman iman di negeri ini. Hanya sebatas di otak tidak di hati. Hanya
sebatas dikenalkan tidak ditanamkan.
Tetapi bukan
itu yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini.
Karena tetap
saja, salah satu fitrah manusia yang harus disalurkan adalah syahwat kepada
lawan jenis. Karenanya Al Quran melarang kerahiban,
وَرَهْبَانِيَّةً
ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْإِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ
“Dan
merekamengada-ngadakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada
mereka tetapi (mereka sendiri yang mengada-ngadakannya) untuk mencari keridhaan
Allah.”(Qs. Al Hadid: 27)
Qotadah
berkata: Rahbaniyyah atau kerahiban adalah menolak (menikahi) wanita dan
menetap di gereja-gereja.
Rasulullah
pun mengingatkan tidak ada kerahiban dalam Islam. Beliau juga menegur keras
seseorang yang menekadkan diri untuk tidak menikah, “Demi
Allah aku orang paling bertakwa di antara kalian.......dan aku menikahi wanita.
Siapa yang membenci sunnahku bukan golonganku.” (Muttafaq alaih)
Dengan
dalil-dalil tersebut, maka jelas bahwa kerahiban yang menahan syahwatnya kepada
lawan jenis bertentangan dengan ajaran Islam. Syahwat kepada lawan jenis adalah
fitrah yang tidak bisa dilawan. Untuk itulah Islam mengatur dengan hati-hati.
Dan tidak membukanya kecuali hanya melalui: pernikahan.
Itu artinya,
pembentengan generasi muda dari maksiat zina dengan menggunakan iman dan yang
lainnya adalah tindakan sementara di usia awal mereka. Sementara sebelum mereka
bisa membangun rumah tangga. Karena suatu hari mereka harus menikah untuk
menyalurkan fitrahnya itu, yang dalam Islam bahkan merupakan bagian dari ibadah
suami dan istri.
Kalau
pembentengan dan penjagaan hanya sementara, maka tidak ada cara lain kecuali
kita segera memikirkan pernikahan anak-anak kita.
Di sinilah
hancurnya generasi muda kita yang berawal hancurnya konsep berumah tangga. Di
satu sisi, syahwat mereka dibangkitkan sepanjang jalan, seluas media dan
pergaulan. Di sisi lain, pernikahan usia dini disumbat. Maka, bukankah ‘wajar’
ketika mereka menyalurkan syahwat mereka dengan cara maksiat yang membuat para
orangtua ketakutan dan negara kerepotan.
Konsep
hancur itu telah berefek luas. Sampai memunculkan sebuah pemikiran yang hampir
rata di masyarakat bahwa yang menikah di usia dini, hanya satu di antara dua:
hamil sebelum nikah atau tidak berpendidikan.
Bahkan
dengan jelas negara ini mengingatkan tentang pernikahan di usia dini yang
dinyatakan sebagai penyebab banyak masalah.
Lengkap sudah...
Pantas
maksiat menjamur...
Siapa yang
bertanggung jawab?
Anda tahu
jawabannya!
Dari sinilah
kita tahu bahwa setelah upaya pembentengan, kita harus segera membahas tentang
pernikahan usia muda anak-anak kita. Agar mereka tidak sempat berbuat maksiat.
Mari kita
tengok sejarah kegemilangan Islam (rasanya sudah cukup kita berkata bahwa
sejarah hanya masa lalu. Karena ia sepertiga Al Quran).
Ali bin Abi
Thalib menikah dengan Fathimah putri Nabi dalam usia 21 tahun dan 15 tahun
Harun Ar
Rasyid, pemimpin paling hebat di dunia (seperti judul bukunya DR. Syauqi Abu
Khalil), menikah pada tahun 165 H. Padahal ia dilahirkan pada tahun 150 H.
Berarti
usianya baru 15 tahun...!!!???!!!
Perlu juga
anda ketahui 5 tahun berikutnya ia dilantik menjadi khalifah dan ia menjadi
khalifah paling sukses di dinasti Bani Abbasiyyah. Yang memimpin selama 23
tahun.
Sekarang
silakan renungi yang dalam dan jujur, mana yang lebih hebat. Ali bin Abi Thalib
dan Harun Ar Rasyid atau kita, usia dan karya kita hari ini? Baru setelah ini
silakan bertanya bagaimana cara mencapainya.
Tulisan ini
sengaja dihadirkan untuk menyadarkan bahwa sejarah kebesaran Islam melahirkan
orang-orang yang berumah tangga di usia sangat awal. Karena Islam telah
menyiapkan anak-anak dengan sangat serius sejak awal. Sehingga mampu berkarya
sejak awal. Termasuk dalam urusan rumah tangga. Alangkah indah dan lengkapnya
hidup kita, jika kita bisa menikmati kebesaran anak berikut cucu. Dan kita akan
tinggalkan dunia dengan senyum indah melihat karya kita pada anak dan cucu.
Tapi apa
daya, banyak yang menikah terlambat. Bahkan, mendorong anak-anaknya untuk
menikah lebih terlambat lagi dengan segudang alat untuk menakut-nakuti tentang
horornya dunia pernikahan.
Dan subhanallah,
saya punya kisah sangat menarik. Saya bersyukur karena ketika tulisan ini sudah
saya rencanakan, ternyata Allah pertemukan saya dengan seorang teman, senior
saya ketika masih kuliah. Beliau menjadi direktur eksekutif sebuah sekolah
Islam.
Di forum
ilmu tersebut beliau memberi sambutan mengejutkan, “Orang
yang ada di depan Anda ini dalam dua bulan lagi insya
Allah akan menjadi kakek, padahal usianya belum genap 40 tahun. Anak saya yang
pertama laki-laki sedang kuliah semester awal usianya 18 tahun dan sudah
menikah. Dia juga telah hapal Al Quran berikut dua adiknya yang lain. Saya
bertekad lima adiknya pun akan
hapal Al Quran.”
Hafidzokumulloh,
ya Usrotal Khoir...
Subhanallah, kisah sukses itu ada di samping kita.
Ini saya
kisahkan karena keterbatasan ilmu dan akal kita menerima kisah-kisah jauh di
zaman kebesaran Islam. Kita sering baru bisa menerima kalau ada contohnya hari
ini. Maka, contoh sukses itu sudah ada di samping anda.
Di sisi lain
pembahasan ini, saya sadar betul bahwa anak-anak muda kita sangat tidak siap
berumah tangga.
Tapi sampai
kapan kita terus mendendangkan lagu kesedihan tentang anak-anak kita yang tak
kunjung siap dan tak kunjung kita siapkan.
Ayo bentengi
mereka dengan iman
Ayo siapkan
mereka untuk berumah tangga
Dan ayo
sambut pernikahan indah mereka di usia awal
Agar mereka
tak sempat maksiat!
Dan agar
kita bisa menikmati karya pada anak berikut cucu, biidznillah...
Komentar
Posting Komentar